
Jakarta, Nalar Aksara — Generasi Z mulai meninggalkan aplikasi pesan instan seperti WhatsApp dan Telegram. Sebaliknya, mereka beralih ke cara berkomunikasi digital yang justru sengaja dibuat lebih lambat. Tren ini disorot dalam laporan Yahoo Tech yang memantau perubahan kebiasaan komunikasi anak muda saat ini.
Aplikasi yang kini digemari antara lain Carrier Pidge dan Roost. Konsepnya unik: pesan dikirim seolah-olah menggunakan burung merpati pos virtual. Alih-alih langsung masuk ke ponsel penerima, pesan akan “terbang” dengan kecepatan rata-rata 177 kilometer per jam. Pesan jarak dekat bisa tiba dalam hitungan detik, tetapi pengiriman lintas benua bisa memakan waktu berjam-jam.
Menariknya, ada pula kemungkinan pesan tidak sampai — sekitar 0,2% merpati virtual di aplikasi tersebut bisa “tersesat”. Pengguna bahkan dapat melihat peta interaktif yang menampilkan perjalanan pesan mereka ke tujuan.
“Sengaja memperlambat komunikasi membuat pengirim lebih mempertimbangkan isi pesan, sekaligus memberi ruang bagi penerima untuk membalas tanpa tekanan harus segera merespons,” ungkap laporan tersebut.
Carrier Pidge dikembangkan oleh Noah Iarrobino hanya dalam waktu tiga minggu. Meski sang pembuat menyebut aplikasinya “tidak berguna dan tidak praktis”, justru konsep itulah yang membuatnya diminati. Sementara itu, Roost diklaim telah mengumpulkan sekitar 300.000 pengguna hanya dalam beberapa minggu setelah diluncurkan.
Tren ini muncul di tengah kejenuhan Gen Z terhadap tuntutan untuk selalu tersedia dan membalas pesan dengan cepat. Aplikasi pesan lambat dianggap memberi jeda yang lebih manusiawi dalam berkomunikasi digital.(re/bc)


Leave a comment