loader image

Keracunan Berulang dan Anggaran Raksasa, Pertanyaan Besar di Balik Program MBG

19
Foto: medsos
Foto: medsos

Oleh: Mohammad Aliman Shahmi

NalarAksara.com — Setiap kali pemerintah menyebut jumlah porsi Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah dibagikan, publik kerap disuguhi angka-angka keberhasilan: jutaan porsi makanan, ribuan dapur, dan anggaran ratusan triliun rupiah. Namun satu pertanyaan yang justru lebih penting jarang terdengar: apa yang sebenarnya sedang dibeli negara dengan uang sebesar itu?

Pertanyaan ini bukan untuk meremehkan kebutuhan anak atas makanan bergizi. Sebaliknya, justru karena kebutuhan itu sangat penting, program MBG tidak boleh berhenti sekadar sebagai proyek distribusi makanan. Ia harus diuji sebagai investasi publik: apakah program ini benar-benar memperbaiki status gizi, mengurangi ketimpangan, dan menghasilkan manfaat yang sepadan dengan biaya serta risikonya?

Dari Program Sosial Menjadi Mesin Anggaran

MBG kini bukan lagi sekadar program sosial. Dalam APBN 2026, program ini dialokasikan Rp335 triliun — jumlah yang bahkan lebih besar dibandingkan anggaran Kesehatan yang berkisar Rp244 triliun dan ketahanan pangan sebesar Rp164,7 triliun. Dengan skala tersebut, MBG telah menjadi salah satu keputusan fiskal terbesar pemerintah saat ini.

Karena itu, cara menilainya pun tidak bisa lagi sama dengan kegiatan pembagian makanan biasa. Pemerintah perlu menjelaskan bukan hanya berapa porsi yang tersalurkan, melainkan apa hasil nyatanya. Apakah status gizi anak membaik? Apakah angka anemia menurun? Apakah kehadiran dan konsentrasi belajar meningkat? Apakah keluarga miskin benar-benar memperoleh manfaat terbesar?

Selama ukuran keberhasilan masih didominasi oleh jumlah dapur, penerima, dan porsi yang terbagi, MBG akan mudah terlihat sukses hanya karena skalanya besar. Padahal, output belum tentu menjadi outcome. Banyaknya makanan yang dibagikan belum otomatis berarti banyak masalah gizi yang terselesaikan.

Di sinilah konsep biaya peluang (opportunity cost) menjadi penting. Setiap rupiah yang masuk ke MBG tidak dapat digunakan untuk kebutuhan lain yang sama pentingnya. Maka pertanyaan yang wajar bukan apakah makanan bergizi itu bermanfaat, melainkan apakah desain MBG saat ini merupakan cara paling efektif menggunakan Rp335 triliun untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Ekspansi yang Mendahului Pengamanan

Risiko terbesar pelaksanaan MBG terlihat dari persoalan keamanan pangan. Pada awal September 2026, lebih dari 1.700 siswa dan guru di berbagai daerah dilaporkan jatuh sakit setelah mengonsumsi makanan dari program tersebut. Kasus keracunan di sejumlah daerah itu menjadi salah satu tanda bahwa ekspansi program ternyata berjalan lebih cepat dibandingkan penguatan pengawasan dan pengamanan mutu makanan.

Kejadian berulang tersebut menambah daftar kekhawatiran masyarakat tentang bagaimana program beranggaran raksasa ini dijalankan di lapangan. Tanpa pengawasan yang kuat dan data dampak yang jelas, pertanyaan tentang seberapa besar manfaat sebenarnya yang diperoleh negara dari program ini tetap belum terjawab sepenuhnya.(kp/re)

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Ikan Berbau, SPPG Kanigaran 4 Batal Kirim MBG ke 744 Siswa SMPN 10

Probolinggo, Nalar Aksara — Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota...

Guru Protes Diminta Endus Makanan MBG, BGN Beri Penjelasan, Aktivis Soroti Pelaksanaannya

Probolinggo, Nalar Aksara — Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi...

Sekolah Boleh Tolak MBG, Namun Hak Siswa yang Membutuhkan Harus Tetap Terjamin

Jakarta, Nalar Aksara — Badan Gizi Nasional (BGN) memberikan ruang bagi sekolah...

20 Kg Uranium Setara Bom Nuklir Masih Tersimpan di Indonesia, Pengamanan Tetap Dijaga

Jakarta, Nalar Aksara — Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) mengungkapkan bahwa sebanyak...